Sunday, 14 April 2013

PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI KEGIATAN PEMBINAAN KESISWAAN


BAB I
PENGERTIAN PENDIDIKAN KARAKTER SECARA TERPADU DALAM KEGIATAN PEMBINAAN KESISWAAN
A.   Pengertian Kegiatan Pembinaan Kesiswaan 
Kegiatan pembinaan kesiswaan merupakan kegiatan pendidikan yang dilakukan di luar jam pelajaran tatap muka. Kegiatan tersebut dilaksanakan di dalam dan/atau di luar lingkungan sekolah dalam rangka memperluas pengetahuan, meningkatkan keterampilan, dan menginternalisasi nilai-nilai atau aturan-aturan agama serta norma-norma sosial baik lokal, nasional, maupun global untuk membentuk insan yang seutuhnya. Dengan kata lain, kegiatan pembinaan kesiswaan merupakan kegiatan pendidikan di luar jam pelajaran yang ditujukan untuk membantu perkembangan peserta didik, sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di sekolah.
Adapun tujuan kegiatan pembinaan kesiswaan adalah sesuai dengan yang tercantum dalam Permendiknas No. 39 Tahun 2008, yaitu:
a. Mengembangkan potensi siswa secara optimal dan terpadu yang meliputi bakat, minat dan kretivitas; 
b. Memantapkan kepribadian siswa untuk mewujudkan ketahanan sekolah sebagai lingkungan pendidikan sehingga terhindar dari usaha dan pengaruh negatif dan bertentangan dengan tujuan pendidikan; 
c.  Mengaktualisasikan potensi siswa dalam pencapaian prestasi unggulan sesuai bakat dan minat;
Menyiapkan siswa agar menjadi warga masyarakat yang berakhlak mulia, demokratis, menghormati hak-hak asasi manusia dalam rangka mewujudkan masyarakat madani. 
B. Nilai yang Diintegrasikan ke Dalam Kegiatan Pembinaan Kesiswaan  
Kesiswaan menyebutkan sepuluh kelompok nilai karakter yang dikembangkan pada peserta didik melalui kegiatan pembinaan kesiswaa, yaitu:
1.   Keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa;
2.   Budi pekerti luhur atau akhlak mulia;
3.   Kepribadian unggul, wawasan kebangsaan, dan bela negara;
4.   Prestasi akademik, seni, dan/atau olahraga sesuai bakat dan minat;
5.   Demokrasi, hak asasi manusia, pendidikan politik, lingkungan hidup, kepekaan dan toleransi sosial dalam konteks masyarakat plural;
6.   Kreativitas, keterampilan, dan kewirausahaan;
7.   Kualitas jasmani, kesehatan, dan gizi berbasis sumber gizi yang terdiversifikasi ;
8.   Sastra dan budaya;
9.   Teknologi informasi dan komunikasi;
10. Komunikasi dalam bahasa Inggris;
Kesepuluh kelompok nilai tersebut dijabarkan menjadi berbagai kegiatan yang secara rinci disebutkan dalam lampiran Permendiknas Nomor 39 Tahun 2008.  Apabila ditelaah lebih jauh, rincian dari Permendiknas tersebut di atas tidak berbeda dengan dua puluh nilai-nilai utama yang dikelompokkan menjadi nilai-nilai yang berhubungan dengan Ketuhanan, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan dan kebangsaan yang merupakan fokus dari pendidikan karakter di SMP.
C. Bentuk Kegiatan

Dalam memantapkan kepribadian peserta didik guna mewujudkan nilai-nilai karakter sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, maka pendidikan karakter melalui kegiatan pembinaan kesiswaan diupayakan antara lain dalam bentuk kegiatan: (1) Pembinaan keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa; (2) Masa Orientasi Siswa (MOS); (3) Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS); (4) Penegakan Tatakrama dan Tata Tertib Kehidupan Akademik dan Sosial Sekolah; (5) Kepramukaan; (6) Upacara Bendera; (7) Usaha Kesehatan Sekolah (UKS); (8) Palang Merah Remaja (PMR); (9) Pendidikan Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba; (10) Pembinaan Bakat dan Minat.
Adapun nilai-nilai yang dikembangkan dalam bentuk kegiatan  pembinaan kesiswaan tersebut dapat dikemukakan ke dalam tabel sebagai berikut.

Tabel
CONTOH KEGIATAN PEMBINAAN KESISWAAN DAN NILAI-NILAI KARAKTER YANG DAPAT DITANAMKAN

No.
Bentuk Kegiatan
Contoh Nilai-nilai
1.
Pembinaan keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Religius
2.
Masa Orientasi Siswa (MOS)
Percaya diri, patuh pada aturan-aturan sosial, disiplin, bertanggungjawab, cinta ilmu, santun, sadar akan hak dan kewajiban diri dan orang lain
3.
Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS)
Percaya diri, kerjasama, kreatif dan inovatif, mandiri, bertanggungjawab, disiplin, demokratis, berjiwa wira usaha



4.
Penegakan Tatakrama dan Tata Tertib Kehidupan Akademik dan Sosial Sekolah
Disiplin, santun, jujur, sadar akan hak dan kewajiban orang lain, peduli sosial dan lingkungan
5.
Kepramukaan
Demokratis, percaya diri, patuh pada aturan-aturan sosial, menghargai keberagaman, mandiri, bekerja keras, disiplin, bertanggung jawab
6.
Upacara Bendera
Nasionalis, disiplin
7.
Usaha Kesehatan Sekolah (UKS)
Bergaya hidup sehat, peduli sosial dan lingkungan
8.
Palang Merah Remaja (PMR)
Peduli sosial dan lingkungan, bergaya hidup sehat, disiplin, mandiri
9.
Pendidikan Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba
Bergaya hidup sehat, patuh pada aturan-aturan sosial
10
Pembinaan Bakat dan Minat
(misalnya: Sains, Olahraga, Seni, Bahasa)
Sains
Cinta ilmu, ingin tahu, berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif, menghargai karya dan prestasi orang lain
Olahraga
Bergaya hidup sehat, disiplin, kerjasama, menghargai  karya dan prestasi orang lain, percaya diri
Seni
Menghargai karya dan prestasi orang lain, menghargai keberagaman, nasionalis, percaya diri
Bahasa
Santun, menghargai karya dan prestasi orang lain, menghargai keberagaman, nasionalis


BAB II
PELAKSANAAN PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI KEGIATAN PEMBINAAN KESISWAAN
 
pendidikan karakter di sekolah dan peningkatan mutu pendidikan. Kegiatan pembinaan kesiswaan dirancang dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di sekolah yang memperkuat penguasaan kompetensi dan memperkaya pengalaman belajar peserta didik dengan tetap membentuk nilai-nilai yang sesuai dengan karakter bangsa.
Dengan demikian, pembinaan kesiswaan di SMP perlu didukung oleh sumber daya yang relevan dengan situasi dan kondisi sekolah serta perkembangan peserta didik. Artinya, pembinaan kesiswaan dalam rangka membentuk karakter akan sangat bergantung kepada faktor-faktor seperti: (a) pemahaman pendidik terhadap kondisi obyektif peserta didik; (b) tingkat penguasaan kompetensi pendidik; (c) tujuan yang akan dicapai; (d) proses pelaksanaan yang direncanakan; (e) materi kegiatan yang dikembangkan; dan (f) dukungan kelembagaan sekolah, baik berupa tenaga, dana, maupun sarana/prasarana pembinaan karakter.  
Bagian berikut akan mendiskusikan implementasi pendidikan karakter melalui pembinaan kesiswaan dengan berbagai kegiatan yang dapat dilaksanakan oleh sekolah.
A.   Pembinaan Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Manusia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia sebagai karsa sila pertama Pancasila tidak dapat terwujud secara tiba-tiba. Manusia yang beriman, bertakwa dan berakhlak mulia akan terbentuk melalui proses kehidupan, terutama melalui proses pendidikan, khususnya kehidupan beragama dan pendidikan agama. Proses pendidikan ini terjadi dan berlangsung seumur hidup baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun di masyarakat.
Melalui proses pendidikan, setiap warga negara Indonesia dibina dan ditingkatkan keimanan dan ketakwaannya kepada Tuhan Yang Maha Esa serta akhlak mulianya. Dengan demikian, meningkatkan keimanan, ketakwaan, dan berakhlak mulia, sebagai salah satu unsur tujuan pendidikan nasional mempunyai makna dalam pembentukan manusia Indonesia seutuhnya yang kita dambakan.
Upaya pendidikan dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya, memberikan makna perlunya pengembangan seluruh dimensi aspek kepribadian secara serasi, selaras, dan seimbang. Konsep manusia seutuhnya harus dipandang memiliki unsur jasad, akal, dan kalbu serta aspek kehidupannya sebagai makhluk individu, sosial, susila, dan agama. Kesemuanya harus berada dalam kesatuan integralistik yang bulat. Pendidikan agama perlu diarahkan untuk mengembangkan iman, akhlak, hati nurani, budi pekerti serta aspek kecerdasan dan keterampilan sehingga terwujud keseimbangan. Dengan demikian, pendidikan agama secara langsung akan mampu memberikan kontribusi terhadap seluruh dimensi perkembangan manusia.
Tujuan dari pembinaan keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah:
1.     Memberikan pengetahuan, pemahaman, dan pengalaman melaksanakan pembiasaan keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam kehidupan sehari-hari.
2.        Meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, serta berakhlak mulia.
3.     Menanamkan akhlak mulia kepada peserta didik melalui kegiatan pembiasaan positif.
Mengamalkan nilai-nilai ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari baik di sekolah, di rumah maupun di masyarakat.

Contoh Kegiatan Pembinaan keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan Permendiknas Nomor 39 Tahun 2008 adalah:
1.     Melaksanakan peribadatan sesuai dengan ketentuan agama masing-masing
2.     Memperingati hari hari besar keagamaan
3.     Melaksanakan perbuatan amaliah sesuai dengan norma agama
4.     Membina toleransi kehidupan antar umat beragama
5.     Mengadakan kegiatan lomba yang bernuansa kegamaan
6.     Mengembangkan dan memberdayakan kegiatan keagamaan di sekolah
Adapun nilai karakter yang dibentuk dengan berbagai contoh kegiatan di atas adalah nilai ‘religius’ (misalnya iman, takwa, tawakkal, sabar, ikhlas).
B.   Masa Orientasi Siswa (MOS)
Hari-hari pertama masuk sekolah merupakan bagian dari hari efektif belajar yang perlu diarahkan dan diisi kegiatan yang bermanfaat, namun tetap dalam suasana gembira dan menyenangkan serta bernilai positif bagi segenap warga sekolah.
Kegiatan hari-hari pertama masuk sekolah ini diberi nama Masa Orientasi Siswa (MOS). MOS merupakan serangkaian kegiatan pertama masuk sekolah pada setiap awal tahun pelajaran baru yang berlangsung selama 3 hari. Penyelenggaraan MOS di setiap wilayah, dapat direncanakan dan diatur sesuai dengan kondisi dan situasi sekolah masing-masing.
Fungsi Masa Orientasi Siswa untuk Sekolah Menengah Pertama adalah sebagai berikut:
1.     Mempersiapkan siswa sebagai warga sekolah yang baik melalui pengenalan sekolah dan lingkungannya, serta peraturan yang berlaku di sekolah. Selanjutnya diharapkan siswa dapat bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan nilai-nilai luhur dan dapat melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan baik.
2.     Meningkatkan pemahaman dan partisipasi siswa dalam mendukung terwujudnya sekolah sebagai lingkungan pendidikan, yakni sebagai tempat proses pembudayaan kehidupan, meningkatkan dan melaksanakan prinsip-prinsip 7 K (Keamanan, Kebersihan, Ketertiban, Keindahan, Kekeluargaan, Kerindangan dan Keselamatan/Kesehatan), sehingga memiliki rasa bangga dan senang menjaga nama baik sekolahnya.
Tujuan umum kegiatan Masa Orientasi Siswa adalah agar para siswa baru lebih mengenal kehidupan lingkungan sekolah, dapat segera menyatu dengan warga sekolah, mengetahui hak dan kewajiban sebagai warga sekolah, sehingga siswa lebih cepat beradaptasi dengan kegiatan belajar mengajar, serta mampu berperan aktif dan bertanggung jawab dalam kehidupan di sekolah.
Secara khusus tujuan kegiatan MOS yaitu sebagai berikut:
1.     Membantu siswa baru mengenal lingkungan sekolah secara mendalam dan lebih dekat, sehingga tercipta suasana edukatif dan kondusif;
2.     Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman siswa tentang tatakrama dan tata tertib yang berlaku di sekolah, khususnya pengertian, ruang lingkup tatakrama serta pentingnya menghargai dan menghormati sesama manusia sebagai makhluk pribadi dan makhluk sosial;
3.     Agar siswa mengenal, memahami dan melaksanakan program studi di sekolah, khususnya cara belajar yang baik, matrikulasi (bridging course), dapat memanfaatkan perpustakaan dan laboratorium, serta mampu menyusun dan melaksanakan program belajar atau jadwal belajar;
4.     Menumbuhkembangkan jiwa kepemimpinan yang demokratis; dan
5.     Memotivasi siswa baru agar merasa bangga dan merasa memiliki terhadap sekolahnya sehingga tumbuh rasa tanggung jawab untuk menjaga, merawat serta menjaga nama baik sekolah.

Contoh-contoh kegiatan yang dilaksanakan selama MOS diantaranya: 1) pertemuan perkenalan dengan kepala sekolah, guru, pegawai, pengurus OSIS; 2) pengenalan dan observasi terhadap sarana dan prasarana sekolah; 3) pengenalan terhadap sistem pembelajaran dan pembinaan kesiswaan di sekolah; 4) pengenalan terhadap kalender akademik sekolah; 5) Pengenalan terhadap peraturan dan tata tertib sekolah; 6) unjuk keberanian siswa baru dalam bidang sains, olah raga, seni dan bahasa;
Adapun nilai-nilai karakter yang dapat dibina melalui kegiatan Masa Orientasi Siswa diantaranya adalah percaya diri, patuh pada aturan-aturan sosial, disiplin, bertanggungjawab, cinta ilmu, santun, sadar akan hak dan kewajiban diri dan orang lain

. Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS)
Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) adalah satu-satunya organisasi siswa yang ada di sekolah.  OSIS di suatu sekolah tidak mempunyai hubungan organisatoris dengan OSIS di sekolah lain dan tidak menjadi bagian/alat dari organisasi lain yang ada di luar sekolah.
OSIS sebagai suatu sistem merupakan tempat siswa bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama.  OSIS juga sebagai kumpulan siswa yang mengadakan koordinasi dalam upaya menciptakan suatu organisasi untuk mencapai tujuan.
Sebagai salah satu upaya pembinaan kesiswaan, OSIS berperan sebagai wadah, penggerak/motivator, dan bersifat preventif.
a.   Sebagai Wadah
Organisasi Siswa Intra Sekolah merupakan satu-satunya wadah kegiatan siswa di sekolah. Oleh sebab itu, OSIS dalam mewujudkan fungsinya sebagai wadah harus melakukan upaya-upaya bersama dengan kegiatan lain, misalnya dalam kegiatan latihan kepemimpinan siswa. Tanpa saling bekerjasama dengan kegiatan lain, peranan OSIS sebagai wadah kegiatan kesiswaan tidak akan berlangsung.


b.   Sebagai penggerak/motivator
Motivator adalah perangsang yang menyebabkan lahirnya keinginan, semangat para siswa untuk berbuat, dan pendorong kegiatan bersama dalam mencapai tujuan. OSIS menjadi penggerak apabila para pembina dan pengurus mampu membawa OSIS selalu memenuhi kebutuhan yang diharapkan, yaitu menghadapi perubahan, memiliki daya tangkal terhadap ancaman, memanfaatkan peluang dan perubahan, dan yang terpenting memberikan kepuasan kepada anggota.
c.   Peranan yang bersifat preventif
Peran OSIS secara internal dapat menggerakkan sumber daya yang ada, secara eksternal mampu beradaptasi dengan lingkungan, seperti: menyelesaikan persoalan perilaku menyimpang siswa dan sebagainya. Dengan demikian secara preventif OSIS berhasil ikut mengamankan sekolah dari segala ancaman yang datang dari dalam maupun luar. Peranan preventif OSIS akan terwujud apabila peranan OSIS sebagai pendorong lebih dahulu harus dapat diwujudkan.
Melalui peranan OSIS tersebut dapat ditarik beberapa manfaat sebagai berikut:
a.     Meningkatkan kesadaran berbangsa, bernegara dan cinta tanah air.
b.     Meningkatkan kepribadian dan budi pekerti luhur.
c.     Meningkatkan kemampuan berorganisasi, pendidikan politik dan kepemimpinan.
d.     Meningkatkan keterampilan, kemandirian dan percaya diri.
e.     Menghargai dan menjiwai nilai-nilai seni, meningkatkan dan mengembangkan kreasi seni.
Beberapa contoh kegiatan pembinaan kesiswaan yang disebutkan dalam Permendiknas Nomor 39 Tahun 2008 yang dapat dilaksanakan OSIS bagi peserta didik SMP diantaranya adalah:
1.     Memantapkan dan mengembangkan peran siswa di dalam OSIS sesuai dengan tugasnya masing-masing
2.     Melaksanakan gotong royong dan kerja bakti (bakti sosial)
3.     Mengadakan lomba mata pelajaran/program keahlian
4.     Menyelenggarakan kegiatan ilmiah
5.     Mengikuti kegiatan workshop, seminar, diskusi panel yang bernuansa ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek)
6.     Mengadakan studi banding dan kunjungan (studi wisata) ke tempat-tempat sumber belajar
7.     Melaksanakan latihan kepemimpinan siswa
8.     Melaksanakan kegiatan kelompok belajar, diskusi, debat dan pidato
9.     Melaksanakan penghijauan dan perindangan lingkungan sekolah
10.  Meningkatkan kreativitas dan ketrampilan dalam menciptakan suatu barang menjadi lebih berguna
11.  Meningkatkan kreativitas dan ketrampilan di bidang barang dan jasa
12.  Meningkatkan usaha koperasi siswa dan unit produksi
13.  Melaksanakan praktek kerja nyata (PKN)/pengalaman kerja lapangan (PKL)/ praktek kerja industri (Prakerim)
14.  Meningkatakan kemampuan ketrampilan siswa melalui sertifikasi kompetensi siswa berkebutuhan khusus.
Dengan berbagai contoh kegiatan di atas, beberapa nilai karakter yang dapat dikembangkan antara lain adalah percaya diri, kerjasama, kreatif dan inovatif, mandiri, bertanggungjawab, disiplin, demokratis, berjiwa wirausaha.
 D.   Penegakan Tatakrama dan Tata Tertib Kehidupan Akademik dan Sosial Sekolah
Sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan merupakan small community, suatu masyarakat dalam skala kecil, sehingga gagasan untuk mewujudkan masyarakat madani perlu diwujudkan dalam tata kehidupan sekolah. Salah satu di antaranya melalui pendidikan budi pekerti yang dilakukan (in-action), bukan semata-mata yang dipersepsi. Oleh karena itu, setiap sekolah harus memikirkan cara-cara mewujudkan pendidikan budi pekerti agar peserta didik betul-betul dapat mempraktikkan norma dan/atau nilai yang sesuai dengan agama dan budaya bangsa Indonesia.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan saat ini adalah menyusun tatakrama dan tata kehidupan sosial sekolah yang merupakan acuan norma yang harus dibuat dan dilaksanakan oleh setiap sekolah. Acuan ini bukan hanya mencakup tata tertib sekolah sebagaimana yang berlaku seperti sekarang ini, tetapi meliputi semua aspek tata kehidupan sosial sekolah yang mengatur tata hubungan antara siswa-siswi, siswa-guru, guru-guru, kepala sekolah-siswa/guru/pegawai sekolah, dan warga sekolah-masyarakat.
Tujuan kegiatan penegakan tatakrama dan tata tertib kehidupan akademik dan sosial sekolah adalah untuk memberikan rambu-rambu kepada sekolah dalam:
1.     Memahami dasar pemikiran pentingnya pendidikan budi pekerti in-action dalam praktik kehidupan sekolah untuk membentuk akhlak dan kepribadian siswa melalui penciptaan iklim dan kultur;
2.     Memahami acuan nilai dan norma serta aspek-aspek yang perlu dikembangkan dalam menyusun tatakrama dan tata tertib sekolah bagi siswa, tata kehidupan akademik dan sosial sekolah bagi kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan lainnya, serta tata hubungan sekolah dengan orangtua dan masyarakat pada umumnya;
3.     Menyusun tatakrama dan tata tertib kehidupan akademik dan sosial sekolah yang sesuai dengan nilai-nilai dan norma agama, nilai kultur dan sosial kemasyarakatan setempat, serta nilai-nilai yang mendukung terwujudnya sistem pembelajaran yang efektif di sekolah; dan
4.     Melaksanakan tatakrama dan tata tertib kehidupan akademik dan sosial sekolah secara tepat dengan mengorganisasikan semua potensi sumber daya yang tersedia untuk membudayakan akhlak mulia dan budi pekerti luhur, memonitor dan mengevaluasi secara berkesinambungan, dan memanfaatkan hasilnya untuk kenaikan kelas dan ketamatan belajar siswa.
Beberapa kegiatan yang dapat dilaksanakan sekolah dalam rangka menegakkan tatakrama dan tata tertib kehidupan akademik dan sosial sekolah antara lain:
1.     Melaksanakan tata tertib dan kultur sekolah
2.     Melaksanakan norma-norma yang berlaku dan tatakrama pergaulan
3.     Menumbuhkembangkan sikap hormat dan menghargai warga sekolah
Diantara nilai-nilai karakter yang dapat dibina melalui kegiatan-kegiatan di atas adalah  disiplin, santun, jujur, sadar akan hak dan kewajiban orang lain, peduli sosial dan lingkungan.
E.   Kepramukaan
Kepramukaan merupakan proses pendidikan di luar lingkungan sekolah dan di luar lingkungan keluarga dalam bentuk kegiatan menarik, menyenangkan, sehat, teratur, terarah, praktis yang dilakukan di alam terbuka yang sasaran akhirnya adalah untuk pembentukan watak, akhlak dan budi pekerti luhur.
Kegiatan pendidikan kepramukaan dilaksanakan melalui Gugus depan Gerakan Pramuka yang berpangkalan di sekolah dan merupakan upaya pembinaan melalui proses kegiatan belajar dan mengajar di sekolah. Melalui pendidikan kepramukaan ini dapat dilakukan pembinaan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kehidupan berbangsa dan bernegara berdasarkan Pancasila, pendidikan pendahuluan bela negara, kepribadian dan budi pekerti luhur, berorganisasi, pendidikan kewiraswastaan, kesegaran jasmani dan daya kreasi, persepsi, apresiasi dan kreasi seni, tenggang rasa dan kerjasama.
Tujuan pembinaan kegiatan pembinaan kesiswaan di bidang kepramukaan di sekolah adalah untuk menunjang kegiatan belajar mengajar, khususnya dalam pembentukan watak dan kepribadian siswa.
Diantara kegiatan pendidikan karakter yang dapat dilaksanakan melalui kegiatan kepramukaan ini adalah:
1.     Menumbuhkembangkan kesadaran untuk rela berkorban terhadap ses
2.     Melaksanakan kegiatan 7 K (Keamanan, kebersihan, ketertiban, keindahan, kekeluargaan, kedamaian dan kerindangan)
3.     Mengunjungi dan mempelajari tempat-tempat bernilai sejarah;
4.     Mempelajari dan meneruskan nilai-nilai luhur, kepeloporan, dang semangat perjuangan para pahlawan
5.     Melaksanakan kegiatan bela negara
6.     Menjaga dan menhormati simbol-simbol dan lambang-lambang negara
Nilai-nilai karakter yang dapat dibina melalui kegiatan-kegiatan di atas adalah demokratis, percaya diri, patuh pada aturan-aturan sosial, menghargai keberagaman, mandiri, bekerja keras, disiplin, bertanggung jawab.
 F.   Upacara Bendera
Upacara bendera di sekolah adalah kegiatan pengibaran/ penurunan bendera kebangsaan Republik Indonesia Sang Merah Putih, dilaksanakan pada saat-saat tertentu atau saat yang telah ditentukan, yang dihadiri oleh siswa, aparat sekolah, serta diselenggarakan secara tertib dan khidmat di sekolah.
Kegiatan upacara bendera merupakan salah satu upaya pendidikan yang dapat mencakup pencapaian berbagai tujuan pendidikan. Sikap disiplin, kesegaran jasmani dan rohani, keterampilan gerak, keterampilan memimpin dan pengembangan sifat bersedia dipimpin adalah merupakan hal-hal yang dapat diperoleh melalui kegiatan upacara bendera.
Melalui upacara bendera diharapkan dapat mempertebal semangat kebangsaan, cinta tanah air, patriotisme dan idealisme serta meningkatkan peran serta siswa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dilihat dari berbagai manfaat dilaksanakannya upacara bendera bagi pencapaian tujuan pendidikan, maka upacara bendera perlu diselenggarakan dengan sebaik-baiknya di sekolah-sekolah, serta dibina secara terus-menerus agar terselenggara secara sempurna.
Maksud dilaksanakannya upacara bendera di sekolah adalah untuk mengusahakan pencapaian tujuan pendidikan nasional dan memantapkan sekolah sebagai wiyatamandala.  Sedangkan tujuan yang diharapkan dari pelaksanaan upacara bendera di sekolah yaitu:
1.     Membiasakan bersikap tertib dan disiplin.
2.     Membiasakan berpenampilan rapi.
3.     Meningkatkan kemampuan memimpin.
4.     Membiasakan kesediaan dipimpin.
5.     Membina kekompakan dan kerjasama.
6.     Mempertebal rasa semangat kebangsaan.
Diantara kegiatan pendidikan karakter yang dapat dilaksanakan melalui kegiatan upacara bendera adalah:
1.     Melaksanakan upacara bendera pada hari senin dan /hari sabtu, serta hari – hari besar nasional
2.     Menyayikan lagu–lagu nasional (Mars dan Hymne);
3.     Mengheningkan cipta dan mendoakan para pahlawan yang telah meninggal dunia;
4.     Mendengarkan riwayat singkat para pahlawan;
Nilai-nilai karakter yang dapat dibina melalui kegiatan-kegiatan di atas adalah nasionalis dan disiplin.
 G.   Usaha Kesehatan Sekolah
Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) merupakan wadah dan program yang sangat efisien untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat dan derajat kesehatan peserta didik (siswa) sedini mungkin.  UKS dilakukan secara terpadu oleh empat Departemen terkait beserta seluruh jajarannya, baik di pusat maupun di daerah.  Adapun landasan pelaksanaan UKS adalah Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri, yaitu Menteri Pendidikan Nasional, Menteri Kesehatan, Menteri Agama, dan Menteri Dalam Negeri.
Usaha membina, mengembangkan, dan meningkatkan kemampuan hidup sehat dan derajat kesehatan peserta didik dilaksanakan melalui program pendidikan di sekolah/madrasah dengan berbagai kegiatan intrakurikuler dan kegiatan pembinaan kesiswaan, serta melalui usaha-usaha lain di luar sekolah yang dilakukan dalam rangka pembinaan dan pemeliharaan kesehatan masyarakat.
Tujuan umum dilaksanakannya UKS  adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan dan prestasi belajar peserta didik dengan cara meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat serta derajat kesehatan peserta didik dan menciptakan lingkungan yang sehat, sehingga memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan yang harmonis dan optimal dalam rangka pembentukan manusia Indonesia seutuhnya.
Secara khusus, UKS ditujukan untuk memupuk kebiasaan hidup sehat dan meningkatkan derajat kesehatan peserta didik yang di dalamnya mencakup:
1.     Memiliki pengetahuan, sikap dan keterampilan untuk melaksanakan prinsip hidup sehat serta peserta didik berpartisipasi aktif di dalam usaha peningkatan kesehatan;
2.     Sehat, baik dalam arti fisik, mental maupun sosial; dan
3.     Memiliki daya hayat dan daya tangkal terhadap pengaruh buruk penyalahgunaan narkotika, obat-obatan dan bahan berbahaya, alkohol (minuman keras), rokok, dan sebagainya.
Ruang lingkup UKS tercermin dalam Tiga Program Pokok Usaha Kesehatan Sekolah (disebut Trias UKS), yang meliputi: (1) Penyelenggaraan Pendidikan Kesehatan; (2) Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan; dan (3) Pembinaan Lingkungan Kehidupan Sekolah Sehat.
Kegiatan pendidikan karakter yang dapat dilaksanakan melalui kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah ini diantaranya adalah:
  1. Melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat
  2. Melaksanakan pencegahan penggunaan minuman keras, merokok, dan penyebaran HIV AIDS
  3. Memberikan informasi tentang pendidikan seks pada usia remaja
  4. Meningkatkan kesehatan reproduksi remaja
  5. Melaksanakan hidup aktif
  6. Melakukan diversifikasi pangan
  7. Melaksanakan pengamanan jajan anak sekolah
Adapun nilai-nilai karakter yang dapat dibina melalui kegiatan-kegiatan di atas adalah bergaya hidup sehat serta peduli sosial dan lingkungan.
 H.   Palang Merah Remaja (PMR)
Jiwa dan semangat kemanusiaan perlu ditanamkan sedini mungkin kepada anak-anak khususnya siswa. Pembinaan dan pengembangannya juga perlu secara terus menerus dilakukan agar mereka siap siaga setiap waktu untuk membaktikan diri bagi tugas­-tugas kemanusiaan sebagai wujud rasa tanggung jawab.
Pembinaan dan pengembangan jiwa dan semangat kemanusiaan di kalangan siswa dapat dilakukan melalui pembinaan dan pengembangan kepalangmerahan. Palang Merah Remaja (PMR), yang merupakan bagian dari Palang Merah Indonesia (PMI) merupakan salah satu wadah untuk melakukan pembinaan dan pengembangan kepalangmerahan kepada siswa, karena PMR mendidik siswa menjadi manusia yang berperikemanusiaan dan mempersiapkan kader PMI yang baik dan mampu membantu melaksanakan tugas kepalangmerahan.
Anggota PMR merupakan salah satu kekuatan PMI dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan kemanusiaan di bidang kesehatan dan saga bencana, mempromosikan 7 (tujuh) prinsip Palang Merah/Bulan Sabit Merah Internasional, serta mengembangkan kapasitas organisasi PMI.
Mengingat pembinaan PMR terfokus pada pembangunan karakter, maka standarisasi pelatihan untuk PMR terdapat 7 (tujuh) materi yang harus dikuasai anggota PMR, yaitu: Gerakan Kepalangmerahan, Kepemimpinan, Pertolongan Pertama, Sanitasi dan Kesehatan, Kesehatan Remaja, Kesiapsiagaan Bencana, dan Donor Darah.
Nilai-nilai karakter yang dapat dibina melalui kegiatan-kegiatan di atas adalah peduli sosial dan lingkungan, bergaya hidup sehat, disiplin, mandiri.
 I.    Pendidikan Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba
Pencegahan penyalagunaan Narkoba (narkotika, psikotropika, dan bahan-bahan adiktif lainya) di Sekolah Menengah Pertama (SMP) pada dasarnya merupakan upaya sadar penciptaan sistem lingkungan pendidikan yang kondusif dalam bentuk pembelajaran, pembimbingan, dan atau pelatihan yang membekali pemahaman, pengalaman, keterampilan, dan kontrol diri pada setiap siswa untuk mencapai mutu kehidupan yang sehat. Dengan kata lain, pendidikan pencegahan  penyalahgunaan narkoba di SMP adalah upaya yang sistematik dan sistemik dalam rangka menjadikan sekolah sebagai lingkungan pendidikan yang sehat guna peningkatan mutu sumberdaya manusia.
Dalam lingkungan pendidikan yang sehat, para siswa diharapkan terfasilitasi perkembangan dirinya secara optimal sehingga menjadi manusia yang produktif serta mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Tujuan pedidikan pencegahan penyalahgunaan Narkoba di lingkungan  SMP, secara umum adalah untuk mengembangkan kemampuan warga sekolah dalam berperilaku sehat dan memfasilitasi penyaluran energi psikofisik para siswa secara terencana dan terpadu dalam keseluruhan program pedidikan di sekolah.
Secara khusus, pendidikan pencegahan penyalahgunaan narkoba di SMP ditujukan agar para siswa:
  1. Memahami tentang penyalahgunaan narkoba;
  2. Mempunyai sikap yang positif dalam mengembangkan pola perilaku dan hidup yang sehat; dan
  3. Memiliki keterampilan mengelola dan mengontrol diri yang konstruktif  dalam menghindari tantangan penyalahgunaan Narkoba.
Kegiatan pendidikan karakter yang dapat dilaksanakan dalam rangka pencegahan penyalahgunaan narkotika, psikotropika dan zat adiktif ini diantaranya adalah:
  1. Melaksanakan seminar tentang pencegahan penyalahgunaan Narkoba;
  2. Memutar film-film dokumenter tentang bahaya dan akibat buruh dari penyalahgunaan Narkoba;
  3. Melakukan kunjungan ke panti rehabilitasi Narkoba;
Adapun nilai-nilai karakter yang dapat dibina melalui kegiatan-kegiatan di atas adalah bergaya hidup sehat, patuh pada aturan-aturan social.
 J.   Pembinaan Bakat dan Minat
Sebagian peserta didik di SMP adalah anak-anak yang mempunyai bakat dan minat yang luar biasa akan tetapi belum diketahui potensinya itu oleh sekolah.  Mereka tidak diketahui bakat dan minatnya secara dini dan optimal karena tidak ada wahana yang dapat digunakan untuk memunculkan bakat dan minat itu di sekolah.  Oleh karena itu, salah satu tugas yang dapat dilakukan sekolah mencari dan memupuk para peserta didik yang mempunyai bakat dan minat di bidang tertentu untuk dapat berkembang secara optimal sehingga menjadi aset yang dapat dibanggakan oleh sekolah dan bahkan oleh negara dan bangsa.
Pembinaan bakat dan minat peserta didik diharapkan dapat juga mendidik karakter peserta didik sehingga dapat menjadi manusia yang utuh.
Kegiatan yang dapat dilaksanakan sekolah dalam rangka membina bakat dan minat peserta didik adalah di bidang sains, olah raga, seni dan bahasa, seperti:
1. mendesain dan memproduksi media pembelajaran 
2.mengadakan pameran karya inovatif dan hasil penelitian 
3.  mengoptimalkan pemanfaatan perpustakaan sekolah 
4. membentuk klub sains, seni dan olahraga
5. menyelenggarakan festival dan lomba seni 
6.menyelenggarakan festival/lomba, sastra dan budaya
7. meningkatkan daya cipta sastra
8. meningkatkan apresiasi budaya 
9. memanfaatkan TIK untuk memfasilitasi kegiatan pembelajaran 
10. menjadikan tik sebagai wahana kreativitas dan inovasi 
11. melaksanakan lomba debat dan pidato 
12. melaksanakan lomba menulis dan korespodensi 
13. melaksanakan kegiatan English day 
14. melaksanakan kegiatan bercerita dalam bahasa inggris 
15.  melaksanakan lomba scrabble
Kegiatan dan kompetisi di bidang sains dapat membina karakter cinta ilmu, ingin tahu, berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif, menghargai karya dan prestasi orang lain.
Kegiatan dan kompetisi di bidang olahraga diharapkan dapat membina karakter bergaya hidup sehat, disiplin, kerjasama, menghargai  karya dan prestasi orang lain, percaya diri.
Kegiatan dan kompetisi di bidang seni adalah untuk membina karakter menghargai karya dan prestasi orang lain, menghargai keberagaman, nasionalis, percaya diri.
Sedangkan kegiatan dan kompetisi di bidang bahasa dapat mendidik siswa untuk mempunyai karakter santun, menghargai karya dan prestasi orang lain, menghargai keberagaman, nasionalis.


CONTOH RPP YANG TELAH DIADAPTASI DENGAN PENDIDIKAN KARAKTER

RENCANA PELAKSANAA PEMBELAJARAN
(RPP)

SMP/MTs
:
................................
Mata Pelajaran
:
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
Kelas/Semester
:
VII / 2
Alokasi Waktu
:
8 Jam pelajaran (4 x pertemuan)

A.    Standar Kompetensi
4. Memahami usaha manusia untuk mengenali perkembangan lingkungannya.
B.    Kompetensi Dasar
4.1  Menggunakan peta, atlas,dan globe, untuk mendapatkan informasi keruangan.
C.    Tujuan Pembelajaran
Pertemuan 1
  1. Mengidentifikasi perbedaan antara peta, atlas, dan Globe.
  2. Mengidentifikasi jenis-jenis peta.
  3. Mengidentifikasi bentuk-bentuk peta.
  4. Menjelaskan pemanfaatan peta dengan penuh percaya diri.

Pertemuan 2
  1. Menentukan letak suatu tempat menggunakan garis lintang dan bujur.
  2. Memperagakan gerak rotasi bumi menggunakan globe.
  3. Mempergunakan indeks untuk mencari letak suatu tempat di atlas.
  4. Bekerjasama
Pertemuan 3
  1. Mengartikan berbagai skala dengan teliti/cermat.
Pertemuan 4
  1. Memperbesar dan memperkecil peta dengan bantuan garis-garis koordinat bersama-sama dengan teliti/cermat.
D.    Materi Pembelajaran
1.     Pengertian peta, atlas, dan globe.
2.     Jenis peta :
Peta umum
Peta tematik (khusus)
3.     Bentuk peta:
Peta datar
Peta timbul
4.     Menentukan letak suatu tempat menggunakan garis lintang dan bujur.
5.     Memperagakan gerak rotasi bumi menggunakan globe.
6.     Penggunaan indeks dan daftar isi pada atlas.
7.     Skala peta:
Skala angka
Skala garis
8.     Memperbesar dan memperkecil peta.

E.    Metode  Pembelajaran
1.     Diskusi                              
2.     Inquiri                                   
3.     Tanya jawab
4.     Simulasi
5.     Observasi /Pengamatan

F.    Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran         
1.    Pertemuan 1
a.   Pendahuluan
-        Berdoa (contoh nilai yang ditanamkan: taqwa).
-        Mengecek kehadiran siswa (contoh nilai yang ditanamkan: disiplin).
-        Menanyakan kabar siswa – dengan fokus pada mereka yang tidak datang dan/atau yang pada pertemuan sebelumnya tidak datang (contoh nilai yang ditanamkan: peduli).
-        Apersepsi: Tulislah rute perjalananmu dari rumah ke sekolah!
-        Motivasi:
-        Peserta didik diminta untuk saling bertukar tulisan tentang rute perjalanan tersebut dengan temannya, kemudian ditanya “Mudah atau sukarkah kamu menemukan rumah temanmu dengan uraian rute perjalanan tersebut?”
-        Alat bantu apakah yang dapat memudahkan untuk menemukan rumah temanmu tersebut?
-        Guru menginformasikan tujuan pembelajaran.

b.   Kegiatan inti

-        Peserta didik dibagi dalam empat kelompok.
-        Setiap kelompok diberi tugas untuk mengamati peta, atlas, dan globe:
-        Kelompok 1 : Perbedaan peta, atlas, dan globe
-        Kelompok 2 : Perbedaan unsur-unsur peta dan atlas.
-        Kelompok 3 : Simbol-simbol pada peta dan contoh-contohnya.
-        Kelompok 4 : Jenis-jenis peta beserta contoh-contohnya
-        Setiap kelompok membuat laporan hasil pengamatan.
-        Setiap kelompok mempresentasikan di depan kelas hasil pengamatannya dan kelompok lain memberikan tanggapan.
-        Guru memberikan penguatan tentang materi yang telah didiskusikan.
(Contoh nilai-nilai karakter yang dapat ditanamkan melalui kegiatan-kegiatan di atas: kerjasama, tanggung jawab, saling menghargai pendapat, percaya diri).
c.   Penutup
-        Guru bersama siswa menyimpulkan pelajaran
-        Penilaian
-        Refleksi:  Peserta didik mengungkapkan kesan terhadap pentingnya mempelajari peta, atlas, dan globe.
-        Guru menginformasikan kepada peserta didik bahwa pertemuan berikutnya mempelajari letak geografis, pemanfaatan atlas, dan globe
-        Berdoa (contoh nilai yang ditanamkan: taqwa).
-        Ke luar kelas dengan tertib pada waktunya (contoh nilai yang ditanamkan: disiplin).

2.    Pertemuan 2

a.              Pendahuluan
-        Berdoa (contoh nilai yang ditanamkan: taqwa).
-        Mengecek kehadiran siswa (contoh nilai yang ditanamkan: disiplin).
-        Menanyakan kabar siswa – dengan fokus pada mereka yang tidak datang dan/atau yang pada pertemuan sebelumnya tidak datang (contoh nilai yang ditanamkan: peduli).
-        Apersepsi :   Jelaskan perbedaan peta, atlas, dan globe.
-        Motivasi:   Cerita tentang pentingnya peta, atlas, dan globe sebagai sumber informasi geografi.
-        Guru menginformasikan tujuan pembelajaran pada.

b.  Kegiatan inti
-        Peserta didik dibagi dalam enam kelompok. Setiap kelompok diberikan atlas yang dilengkapi dengan indeks dan globe.
-        Setiap kelompok diberi 4 nama kota atau obyek geografis lain.
-             Kelompok 1 : Ampenan, Santa Fe, Tarutung, Tenggarong
-             Kelompok 2 : Sanggau, Mamuju, Masohi, Port Said
-             Kelompok 3 : Muaraenim, Lumajang, Atambua, Bukarest
-             Kelompok 4 : Trenggalek, Luwuk, Tripoli, Bengkalis
-             Kelompok 5 : Sungailiat, Dompu, Kuching, Tual
-             Kelompok 6 : Timika, Parepare, Pangkalanbun, Warsawa.
-        Setiap kelompok ditugaskan untuk :
-             Mencari beberapa peta di dalam atlas
-             Mencari obyek tersebut di dalam atlas
-             Menentukan  letak astronomis
-             Mendemonstrasikan gerak rotasi bumi menggunakan globe.
-        Setiap kelompok ditugaskan untuk membuat laporan dan mempresentasikan langkah-langkah kerja mereka dalam menemukan obyek geografis di atlas dan menentukan letak astronomis obyek tersebut.
-        Setiap kelompok mendemonstrasikan di depan kelas gerak rotasi bumi menggunakan globe.
-        Guru mengajak Peserta didik membandingkan langkah kerja kelompok mana yang paling baik.
-        Guru memberikan konfirmasi  dan penguatan.

(Contoh nilai-nilai karakter yang dapat ditanamkan melalui kegiatan-kegiatan di atas: kerjasama, tanggung jawab, saling menghargai pendapat orang lain, percaya diri).

c.  Penutup
-        Guru dan Peserta didik membuat kesimpulan.
-        Penilaian
-        Refleksi :  Peserta didik menyimpulkan pemanfaatan peta, atlas, dan globe.
-        Guru menginformasikan kepada peserta didik bahwa pertemuan berikutnya mempelajari skala.
-        Berdoa (contoh nilai yang ditanamkan: taqwa).
-        Ke luar kelas dengan tertib pada waktunya (contoh nilai yang ditanamkan: disiplin).

3.    Pertemuan 3
a.  Pendahuluan
-        Berdoa (contoh nilai yang ditanamkan: taqwa).
-        Mengecek kehadiran siswa (contoh nilai yang ditanamkan: disiplin).
-        Menanyakan kabar siswa – dengan fokus pada mereka yang tidak datang dan/atau yang pada pertemuan sebelumnya tidak datang (contoh nilai yang ditanamkan: peduli).
-        Apersepsi  : Sebutkan unsur peta yang berkaitan berkaitan dengan jarak
-        Motivasi    : Peserta didik diajak keluar kelas untuk mengukur panjang dan lebar halaman sekolah, kemudian ditanyakan “Dapatkah halaman tersebut digambarkan pada kertas sesuai dengan ukuran yang sebenarnya?”
-        Guru menginformasikan tujuan pembelajaran.

b.  Kegiatan inti
-        Tanya jawab tentang arti skala peta.
-        Peserta didik dibagi dalam beberapa kelompok.
-        Setiap kelompok diberi tugas:
-        Mengamati skala peta yang ada di dalam atlas.
-        Menentukan judul dan besar skala
-        Menentukan dua titik yang ada dalam peta dan mengukur jaraknya.
-        Menghitung jarak sebenarnya dari dua titik yang telah ditentukan.
-        Berdiskusi langkah-langkah untuk mengkonversi skala garis ke jenis skala angka dan sebaliknya.
-        Setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompok di depan kelas dan kelompok lain menanggapi.
-        Guru memberi konfirmasi dan penguatan.

(Contoh nilai-nilai karakter yang dapat ditanamkan melalui kegiatan-kegiatan di atas: kerjasama, logis, kritis, tanggung jawab, saling menghargai pendapat, percaya diri).

c.  Penutup

-        Guru bersama Peserta didik membuat kesimpulan.
-        Penilaian
-        Refleksi:  Peserta didik membuat kesimpulan tentang manfaat skala peta.
-        Menugaskan peserta didik untuk membawa alat dan bahan untuk memperbesar dan memperkecil peta pertemuan berikutnya.
-        Berdoa (contoh nilai yang ditanamkan: taqwa).
-        Ke luar kelas dengan tertib pada waktunya (contoh nilai yang ditanamkan: disiplin).

4.    Pertemuan 4
a. Pendahuluan
-        Berdoa (contoh nilai yang ditanamkan: taqwa).
-        Mengecek kehadiran siswa (contoh nilai yang ditanamkan: disiplin).
-        Menanyakan kabar siswa – dengan fokus pada mereka yang tidak datang dan/atau yang pada pertemuan sebelumnya tidak datang (contoh nilai yang ditanamkan: peduli).
-        Apersepsi:  Jelaskan manfaat skala pada peta!
-        Motivasi:  Mengamati suatu peta. Dapatkah peta tersebut diperbesar atau diperkecil.
-        Guru menginformasikan tujuan pembelajaran.

b.   Kegiatan inti

-        Tanya jawab tentang cara memperbesar atau memperkecil peta.
-        Tanya jawab tentang bahan dan alat yang digunakan dalam memperbesar atau memperkecil peta dengan menggunakan garis-garis koordinat (garis grid).
-        Tugas individu untuk memperbesar dan memperkecil peta dengan langkah-langkah sebagai berikut:
-        Menyiapkan alat dan bahan memperbesar atau memperkecil peta dengan menggunakan garis-garis koordinat (garis grid).
-        Menentukan peta yang akan diperbesar atau diperkecil.
-        Membuat garis-garis koordinat (garis grid) pada peta yang akan diperbesar atau diperkecil.
-        Membuat garis-garis koordinat (garis grid) pada kertas kerja sesuai dengan perbesaran atau perkecilan yang diinginkan.
-        Menyalin peta dari peta asli ke kertas kerja.
-        Menentukan skala pada peta yang telah diperbesar atau diperkecil.
-        Tanya jawab tentang unsur peta yang berubah dan tidak berubah dari peta yang telah diperbesar atau diperkecil.

(Contoh nilai-nilai karakter yang dapat ditanamkan melalui kegiatan-kegiatan di atas: kerjasama, tanggung jawab, saling menghargai pendapat, percaya diri).

c. Penutup
-        Guru bersama Peserta didik membuat kesimpulan.
-        Penilaian
-        Guru menginformasikan bahwa peserta didik yang belum mencapai KKM dalam memperbesar/memperkecil peta perlu memperbaiki hasil kerjanya.
-        Refleksi: Peserta didik menyampaikan kesan tentang kesulitan dalam memperbesar atau memperkecil peta.
-        Guru menginformasikan kepada peserta bahwa pertemuan berikutnya membahas tentang interaksi sosial, siswa ditugasi membaca buku pelajaran yang berkaitan dengan materi tersebut.
-         Berdoa (contoh nilai yang ditanamkan: taqwa).
-        Ke luar kelas dengan tertib pada waktunya (contoh nilai yang ditanamkan: disiplin).

G.    Sumber dan Media Pembelajaran
1.     Peta
2.     Atlas
3.     Globe
4.     Kertas karton/ HVS
5.     Lembar  Penilaian Psikomotorik
6.     Buku geografi yang relevan


0 comments:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan bahasa yang sopan dan bersifat membangun